Minggu, 06 Desember 2009

Let Go

My First "Gejeh" Story..

-----

Malam ini ku pejamkan mataku lebih awal dari biasanya. Semua karena ingin menghindarinya. Aku tidak ingin melihatnya datang dan dalam keadaan mabuk.

Ia seperti itu karena kehilangan seseorang yang dicintainya beberapa waktu yang lalu. Sebuah kecelakaan lalu lintas merenggut nyawa kekasihnya. Kini ia melampiaskan kecewanya pada minuman keras.

Aku di sini memang untuk menemaninya. Tapi aku tidak tega melihatnya kacau seperti itu. Mabuk, meracau, menangis, berteriak sampai akhirnya tertidur dengan badan penuh bau alkohol. Baru setelah ia terlelap aku berani mendekatinya.

Aku tidur di ruangan yang terpisah dengannya. Malam ini kukunci puntu kamarku rapat-rapat karena kemarin ia hampir saja memperkosaku. Tentu saja itu semua karena ia dikuasai oleh minuman keras.

Aku tidak marah, aku tidak kesal, dan aku tidak ingin meninggalkannya dalam keadaan seperti ini.

Braakkk.....

Suara pintu terdengar sangat kencang dari dalam kamarku. Aku menutup mataku dan merapatkan selimutku.

Tok...tok..tok...

Ia mengetok pintu kamarku. Aku akan menghiraukannya agar ia mengira kalau aku sudah tidur.

Tok..tok..tok..tok..tok...

"Lee Ri Yoo... buka pintunya!" teriaknya kacau. Aku tidak bergeming. Aku tidak berani meladeninya jika dia sedang mabuk seperti ini.

"Lee Ri Yoo... don't you want to comfort me now? Why did you come to my house then? DANGJANG KOJYO!" ia mengusirku. Tiap malam selama satu minggu ini dia mengusirku. Namun keesokan paginya, dia sudah lupa dengan apa yang di ucapkannya.

"Lee Ri Yoo... I need you... hikss..." kudengar ia tersedu. Aku tahu kalau ia membutuhkanku. Tapi tidak ketika ia sedang mabuk seperti ini.

Cukup lama aku tidak mendengar suaranya lagi. Maka aku putuskan untuk membuka pintu untuk melihat keadaannya.

Bruukk...

Ternyata ia tertidur di depan pintu kamarku. Wajahnya penuh lebam. Mungkin sisa perkelahian di bar malam ini.

Tak terasa air mataku mengalir melihatnya. Dengan susah payah aku menggotongnya ke kamarku. Ku rebahkan dia di atas tempat tidur. Aku seka wajahnya yang penuh peluh dan kuoleskan obat pada luka di wajahnya.

"Kenapa kau seperti ini? Aku tahu kau sangat mencintainya, tapi tidak seharusnya kau seperti ini! Hiks..." aku terisak saat mengoleskan obat ke pipinya.

"Don't leave me!" ucapnya dalam tidur.

"I won't!" jawabku sambil kukecup pipinya.

"Don't leave me, Nana!" aku kecewa mendengarnya.

------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar