Selasa, 09 November 2010

Love is Pain...

--Seung Hyun PoV--

Di suatu musim gugur yang indah kami bertemu.
Saat itu terlihat dia sedang menikmati indahnya dedaunan yang kini mulai berubah warna dan mulai berguguran.
Sedikit dingin, namun ia tampak sangat menikmatinya.

Kudekati dia, namun dia tampak terganggu dengan kehadiranku.
Kuputuskan untuk duduk disampingnya. Namun ia bergeser menjauhiku.
Ketika aku mencoba untuk memulai percakapan dengannya, dia berdiri dan meninggalkanku.
Aku tidak terpaku dan hanya bisa menatap punggungnya yang lama kelamaan berjalan menjauhiku.

"Wait... dompetmu!" ternyata dompetnya tertinggal.

Kubuka perlahan. Tidak ada apa pun di dalamnya. Hanya ada 2 lembar uang 10.000, membuatku mengernyitkan dahiku.

-----

Hari berikutnya aku menyempatkan untuk berjalan melewati taman itu.
Berharap untuk bisa bertemu lagi dengannya.
Tempat yang sama, waktu yang sama, dan.... orang yang sama.

"Jogiyo..." aku lihat dia sibuk mengitari bangku yang didudukinya kemarin. Berjalan ke samping, ke depan, belakang, mengitari pohon yang ada di belakangnya, tampak sedang mencari sesuatu.
Aku pun merogoh tasku dan mengambil dompetnya yang kemarin tertinggal.

"Jogiyo..." aku memanggilnya. Tapi dia masih terus sibuk mencari-cari.

"Jogiyo, agashi..." aku menepuk pundaknya. Ia menoleh ke arahku, lalu memperhatikan dompetnya yang ada di tanganku. Ia terbelalak dan segera merebut dompet itu dari tanganku. Ia melotot kearahku, marah. Lalu ia lari meninggalkanku, lagi.

-----

"Aku harus bisa mendapatkan sebuah nama." tekadku sejak mulai melangkahkan kaki keluar dari rumah.
Aku kembali ke taman itu. Dia sudah ada disana.
Mengenakan jaket dan syal melilit di lehernya, tebal.
Padahal hari ini tidak sedingin itu.

"Annyonghaseyo!" sapaku. Ia menoleh dan membungkuk sedikit.

"Joneun Seung Hyun-iyeyo." aku menjulurkan tanganku, berharap ia juga mau menyebutkan namanya. Ia menyambut tanganku dan kembali membungkuk kecil.
Aku sedikit kaget melihat tangannya. Banyak bekas luka disana.

"Mmmm.... Dangsineun?" bukannya menjawab, ia malah terlihat panik. Namun sekaligus sangat lucu. Ia berdiri dan membungkuk. Lalu berlari meninggalkan aku, lagi, di bangku ini.

"Heung~ isanghe...."

-----

Seminggu kemarin dia tidak datang ke taman itu. Aku sedikit merindukannya. Wajah polosnya saat mengamati dedaunan itu, terlihat imut. Dia tidak cantik, tapi... cute.

"Chamkanman...." aku kaget melihat seseorang berpakaian putih mendorong sebuh kursi roda. Dan wanita yang ada di kursi roda itu, aku mengenalnya.

"Jogiyo.." aku mengejar mereka.

"Ada apa ajoshi?" sepertinya seorang suster. Dan yang ia dorong ini. Benar, itu dia....

"Kenapa dia pakai kursi roda?" tanyaku sambil terus memperhatikan wanita yang ada di kursi roda.

"Oh, Anda mengenal nona Ri Yoo?" so, namanya Ri Yoo.

"Mmm.. chum.." jawabku tidak pasti.

"Minggu lalu kami sedikit kecolongan. Namun berubah menjadi sedikit fatal." aku tidak mengerti, namun pura-pura mengerti. Maklum, aku pun pura-pura mengenalnya.

"Kecolongan?" tanyaku hati-hati.

"Iya, saat kami lengah, nona Ri Yoo sudah berada di balkon lantai 2. Dan tidak berapa lama dia menjatuhkan dirinya. Tidak terlalu fatal, karena Anda bisa lihat nona Ri Yoo masih hidup sekarang. Tapi, kakinya lumpuh. Dia tidak bisa berjalan lagi." aku sangat terkejut. Namun aku menahan diri untuk tidak tampak terkejut di depan suster ini. Tanpa kusadari, tanganku ini berusaha menyentuh pundak Ri yoo.

"Andweyo ajoshi!" teriak si suster. Namun aku sudah menyentuhnya. Kenapa dia melarangku?!

"Ehh... isanghada.... Biasanya dia langsung mengamuk begitu ada yg menyentuhnya, terutama laki-laki." Aku pun berjalan ke depannya. Ingin menatap wajahnya.
Wajah itu sangat putih, namun putih yg berbeda. Pucat.

"Annyong haseyo Ri Yoo-ssi.. Nan, Seung Hyun-iyeyo.." kujulurkan tanganku. Ia menyambutnya. Dan ia tersenyum. Senyum manis.

-----

Mengajaknya berjalan-jalan di taman menjadi kegiatan rutinku selama beberapa minggu setelah aku mengenalnya.
Aku banyak bercerita, dan dia hanya mendengar. Sesekali tersenyum.
Selama berjalan-jalan, susternya pun selalu bersama kami.
Dia hanya mengijinkan aku mengajaknya berjalan-jalan selama 30 menit. Itu pun sangat jarang. Lebih sering dia hanya mengijinkanku 15 menit berputar di taman dengan Ri Yoo.

"Sejak bertemu dengan Anda, nona Ri Yoo lebih tenang di rumah. Ia pun banyak tersenyum." ujar susternya, sore itu.

"mmm... bolehkan aku tahu, apa yg menyebabkan dia seperti ini?" aku berbicara dengan suara paling halus, bahkan setengah berbisik pada sang suster.

"Karena pacarnya, namanya Yang Seung Ho. Dia meninggal tepat dihadapannya, dihari jadi mereka. Seung Ho dan nona Ri Yoo bertemu saat nona Ri Yoo menjadi dokter magang di sebuah rumah sakit. Seung Ho adalah pasien Leukemia. Sebenarnya nona Ri Yoo sudah tahu, segala resikonya. Namun, ternyata ia terlalu mencintai Seung Ho-ssi. Jadi, sepertinya dia tidak bisa menerima kepergian Seung Ho-ssi yg begitu mendadak. Tapi sekarang..." pembicaraan kami terputus karena Ri Yoo tiba-tiba terkulai di kursi-nya.
Aku membantu membopong Ri Yoo sampai ke dalam mobil.

"Boleh aku ikut?" tanyaku sedikit terengah.

"Mmmm... baiklah." aku pun ikut di dalam mobil itu. Aku duduk di kursi depan, tapi aku tidak bisa berhenti khawatir dan selalu melihat ke bangku belakang. Ri Yoo terlihat sangat pucat.

"Kita tidak ke rumah sakit?" tanyaku bingung, karena mobil ini memasuki sebuah rumah dan bukan rumah sakit.

"Di rumah ini sudah seperti rumah sakit. Ayah nona Ri Yoo direktur sebuah rumah sakit besar, makanya perlatan kedokteran pun sangat lengkap di rumah.

Aku pun membantu membopong Ri Yoo sampai ke kamarnya.
No wonder...
Kamarnya benar-benar seperti replika kamar rumah sakit. Semua peralatan sudah tersedia.
Tidak lama pun ada seorang tua yang masuk ke dalam kamar, mungkin ayahnya.

"Apa yang terjadi?" tanyanya panik sambil memeriksa keadaan Ri Yoo dengan stateskop menempel di telinganya.

"Nona Ri Yoo tiba-tiba pingsan, tuan."

"Sudah kubilang jangan terlalu lama jalan-jalan di taman!" omelnya sambil terus memeriksa, kini giliran memeriksa tekanan darah Ri Yoo.

Selesai memeriksa dan memastikan tidak ada yg serius terjadi pada anaknya, akhirnya dia menyadari keberadaanku.

"Siapa dia?" tanyanya galak.

"Dia teman nona Ri Yoo, yang selalu menemaninya jalan-jalan di taman beberapa minggu ini."

"Annyonghaseyo, joneun Seung Hyun imnida." aku langsung memperkenalkan diriku dan membungkuk dalam. Ayahnya tampak terkejut.

"Keluar! Silahkan Anda keluar dari rumah ini!" usirnya. Dengan bingung aku pun melangkah keluar. Aku keluar dari rumah itu.

--End of Seung Hyun PoV--

"Bagaimana bisa mereka bertemu?" Dong Wook menginterogasi suster yang setiap hari menemani anaknya.

"Saya juga tidak tahu, tuan. Tiba-tiba lelaki tadi menghampiri dan mengajak nona Ri yoo jalan-jalan. Karena nona Ri Yoo tidak bereaksi apapun, makanya saya biarkan mereka jalan-jalan. Tapi selalu saya dampingi kok, tuan." ucap si suster sedikit membela diri.

"Jangan kau biarkan dia menemui Ri Yoo lagi! Suaranya, sangat mirip dengan suara Seung Ho. Mungkin itu yang membuat Ri Yoo tidak bereaksi apa-apa. Tapi itu malah berbahaya. Susah payah aku menyuruk psikiater untuk membantu Ri Yoo melupakan Seung Ho, kalau ada anak muda itu. Aku tidak tahu apa yg akan terjadi. Mungkin usaha yg selama ini sudah berjalan akan menjadi sia-sia."

Tanpa diketahui siapapun di ruangan itu, Ri Yoo sudah sadar dan mendengar percakapan ayahnya dengan suster itu. Dan betul dugaan Dong Wook, Ri Yoo kembali mengenang saat-saat indahnya dengan Seung Ho. Dan sampailah pada kenangan saat Seung Ho terjatuh di meja makan, darah segar mengalir dari hidungnya. Tersenyum pada Ri Yoo sampai akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di pelukan Ri Yoo sebelum mobil ambulance datang untuk membawanya ke Rumah Sakit.

Air mata kembali membanjiri pipi Ri yoo. Namun tidak ada yang tahu, karena ayahnya sedang sibuk menegur suster penjaga Ri Yoo.

Saat malam menjelang, Ri Yoo bangun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi yang berada tidak jauh dari ranjangnya. Ia kunci pintu kamar mandinya itu rapat-rapat.
Lama ia memandang pantulan dirinya dalam kaca. Lalu..

Prraaanngg.....

Ia menonjok kaca itu hingga menjadi serpihan dan berhamburan ke lantai. Tangannya mengeluarkan banyak darah. Namun tampaknya darah itu tidak cukup bagi Ri Yoo.
Ia pun mengambil potongan kaca, dan menyayat pergelangan tangannya sendiri.
Bukannya merasa perih, tapi ia merasa senang. Tersenyum puas melihat banyaknya darah yg keluar dari pergelangan tangannya itu. Sampai akhirnya ia merasa lemas, dan terjatuh di lantai. Semakin lama ia semakin lemah, dan akhirnya ia pun tidak sanggup untuk bergerak.

"Ri Yoo.... nona Ri Yoo..." suara suster itu berteriak di luar sambil menggedor pintu kamar mandi yg terkunci itu.

"Lee Ri yoo... Lee Ri Yoo.. buka pintunya!!!! Ri Yoo!!!!" Teriak Jun Mo, kakak laki-lakinya.

Brraaakk...

Jun Mo mendobrak pintu kamar mandi itu, namun semuanya sudah terlambat.

--Seung Hyun PoV--

Aku terus memikirkan Ri Yoo. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Aku sangat menyayanginya. Aku mencemaskannya.

"Seung Hyun-ssi..." aku tiba-tiba mendengar suara seorang wanita memanggil namaku.

"Seung Hyun-ssi..." tiba-tiba aku melihat bayangan Ri Yoo yang sedang tersenyum padaku.
Namun bayangan itu tiba-tiba menghilang.
Aku benar-benar tidak bisa merasa tenang.
Kuambil jaketku, dan berlari ke rumahnya.
Cukup jauh, namun aku tidak peduli.

-----

"Aku disini untuk mengenang satu tahun pertemuan kita. Entah mengapa aku sangat terkesan sejak pertama kali melihatmu. Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama. Tapi aku tidak tahu. Cinta kah yang aku rasakan kepadamu?! Yang aku tahu, aku menyayangimu. Beberapa minggu menemanimu jalan-jalan di taman mungkin merupakan saat yang paling membahagiakan bagiku. Oh, anniyo... Saat yang paling membahagiakan bagiku adalah saat aku pertama kali melihat senyumanmu! Bahkan saat terakhir pun kau datang padaku untuk memberikan senyuman terbaikmu. Terima kasih. Terima kasih telah hadir di kehidupanku. Gomawo, Ri Yoo-yah!"

Kuletakkan sebuket lily putih di atas makamnya. Bisa kulihat senyum manisnya saat menerima bunga ini. Annyong, Ri Yoo-yah...

--End of Seung Hyun PoV--